Di kawasan pesisir utara Jawa Barat, terdapat sebuah pertunjukan tradisional yang unik dan penuh dengan nuansa magis yang dikenal dengan Seni Berokan. Kesenian ini merupakan bentuk teater rakyat yang menggunakan boneka atau topeng menyerupai binatang buas dengan mulut yang bisa dikatupkan, mirip dengan barongsai namun dengan kearifan lokal yang sangat kental. Nama Berokan sendiri dipercaya berasal dari kata barokahan yang berarti memohon berkah. Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan jalanan, melainkan sebuah media penyebaran nilai-nilai luhur dan doa keselamatan bagi masyarakat agraris maupun nelayan yang meyakini adanya kekuatan spiritual di balik setiap pementasannya.
Keunikan dari Seni Berokan terletak pada interaksi antara pemain dan penontonnya yang sangat dinamis. Biasanya, sosok Berokan akan diarak keliling desa atau ngamen dari rumah ke rumah. Sang pemain berada di dalam kostum yang terbuat dari karung goni atau kain perca, sementara kepalanya terbuat dari kayu yang dipahat menyerupai wajah naga atau macan dengan taring yang mencolok. Bunyi tak-tok dari mulut kayu yang beradu menjadi ciri khas yang selalu dinanti oleh anak-anak maupun orang dewasa. Meski terlihat menakutkan, masyarakat meyakini bahwa kehadiran Berokan mampu mengusir roh jahat atau penyakit (tolak bala) yang mengancam ketentraman lingkungan pemukiman mereka.
Dalam pementasan Seni Berokan, unsur mistis sering kali muncul melalui atraksi-atraksi yang tidak masuk akal, seperti pemain yang kebal terhadap benda tajam atau kemampuan Berokan untuk meramal hal-hal tertentu. Hal ini didukung oleh iringan musik yang sederhana namun ritmis, terdiri dari kendang, kempul, dan kecrek yang menciptakan suasana magis. Di sela-sela pertunjukan, biasanya terdapat dialog jenaka antara dalang Berokan dengan penonton yang berisi sindiran sosial atau petuah bijak. Inilah yang membuat kesenian ini tetap dicintai, karena ia mampu menjadi cermin kehidupan masyarakat kecil yang jujur, apa adanya, dan tetap religius dalam menjalankan tradisi nenek moyang.
Tantangan pelestarian Seni Berokan di era modern sangatlah besar, terutama dengan banyaknya hiburan digital yang lebih praktis. Namun, para seniman tradisional di pesisir utara tidak menyerah. Mereka mulai mengemas Berokan ke dalam panggung-panggung festival budaya yang lebih tertata tanpa menghilangkan pakem aslinya. Generasi muda mulai diajak untuk terlibat, baik sebagai pemusik maupun pembuat topeng kayu, agar keterampilan kriya dan seni gerak ini tidak hilang ditelan zaman. Dukungan pemerintah daerah dalam mendokumentasikan sejarah dan filosofi Berokan sangat krusial agar identitas budaya lokal ini tetap memiliki tempat di hati masyarakat urban yang kian heterogen.
