Indramayu merupakan salah satu lumbung pangan dan penghasil komoditas perikanan tambak terbesar, namun keberlangsungan sektor ini terancam oleh Bahaya Pestisida yang berasal dari limpasan lahan pertanian di sekitarnya. Penggunaan bahan kimia berlebih untuk membasmi hama tanaman padi sering kali tidak terserap sepenuhnya oleh tanah, melainkan hanyut bersama air irigasi menuju saluran pembuangan yang terhubung langsung dengan kawasan pertambakan. Zat kimia ini membawa dampak buruk bagi kualitas air tambak, yang pada akhirnya merusak kesehatan udang dan ikan bandeng yang menjadi andalan ekonomi warga pesisir Indramayu.
Dampak langsung dari Bahaya Pestisida adalah kontaminasi residu kimia pada produk perikanan yang dihasilkan. Udang dan ikan yang hidup di air tercemar cenderung memiliki daya tahan tubuh yang lemah, pertumbuhan yang lambat, dan risiko kematian massal yang tinggi. Lebih jauh lagi, residu kimia ini dapat terakumulasi dalam daging ikan yang jika dikonsumsi manusia dalam jangka panjang dapat memicu gangguan kesehatan serius seperti kerusakan saraf dan gangguan hormonal. Menjaga kualitas air tambak bukan hanya soal menjaga keuntungan petani, tetapi juga soal memastikan keamanan pangan bagi seluruh konsumen yang mengandalkan hasil laut dari Indramayu.
Selain itu, Bahaya Pestisida juga merusak rantai makanan alami di ekosistem pesisir. Bahan kimia ini tidak hanya membunuh hama target, tetapi juga mematikan mikroorganisme bermanfaat dan plankton yang menjadi pakan alami bibit ikan atau nener. Ketika keseimbangan hayati di dalam tambak rusak, petani sering kali terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk obat-obatan dan pakan buatan yang semakin membebani biaya produksi. Polusi kimia ini juga mengancam kelestarian hutan mangrove di sekitarnya, yang berfungsi sebagai filter alami dan tempat berkembang biaknya biota laut yang penting bagi keberlanjutan sektor perikanan tangkap.
Untuk meminimalisir Bahaya Pestisida, diperlukan sinergi antara petani padi dan pengusaha tambak di Indramayu. Penerapan sistem pertanian organik atau setidaknya pengurangan dosis pestisida kimia menjadi langkah awal yang mutlak. Pembangunan kolam filter atau bio-remediasi menggunakan tanaman air sebelum air irigasi masuk ke kawasan tambak juga bisa menjadi solusi teknis yang efektif. Pemerintah daerah diharapkan lebih ketat dalam mengawasi peredaran bahan kimia berbahaya dan gencar memberikan edukasi mengenai cara bertani yang ramah lingkungan. Dengan menjaga air tetap jernih dari zat kimia, kita sedang
